|
Let's Plan Now, and Play Later
|
|
MASIHKAH ADA ALASAN UNTUK TIDAK MENABUNG
Quoting : Safir Senduk
"Siapa, sih, yang tak ingin punya tabungan? Saya juga mau, kok, menabung. Masalahnya, uang saya habis terus..." "Belum lagi anak-anak minta dibelikan sepatu..." "Saya kan juga perlu beli ini dan itu..." "Ah, saya memang enggak berbakat mengelola uang..." Kata-kata tersebut diatas mungkin akrab di telinga Anda, atau mungkin Anda sendiri yang mengalaminya. Anda ingin sekali bisa menabung, tapi dalam prakteknya, hal itu sulit dilakukan. Anda selalu kehabisan uang di akhir bulan sehingga tidak bisa menabung. Apakah Anda tergolong orang yang seperti itu? Jangan kecil hati. Semua orang hampir pasti akan mengalaminya. Menabung (melakukan investasi secara rutin) seringkali dilakukan untuk berbagai macam tujuan. Namun demikian, apabila Anda menyisihkan uang secara rutin, maka uang yang Anda kumpulkan tersebut bisa sangat bermanfaat. Seseorang yang memiliki penghasilan sebesar Rp 1 juta per bulan, misalnya, setelah setahun menabung hanya memiliki saldo rekening Rp 200 ribu di rekeningnya. Setelah ditanya kenapa jumlah saldo rekeningnya cuma sebesar itu setelah bekerja setahun, ia mengatakan penghasilannya sering habis dipakai dalam sebulan. Jadi, ia tidak bisa menabung. Sebetulnya, kalau ia mau menabung sebesar Rp 100 ribu saja setiap bulan, maka pada akhir tahun ia sudah akan memiliki jumlah saldo rekening sebesar Rp 1,2 juta, plus bunganya. Apakah situasi seperti ini cukup akrab di telinga Anda? Atau, apakah Anda juga mengalaminya? MENINGKATKAN DAN MENEKAN Saya akan beberkan satu cara buat Anda. Kalau selama ini Anda selalu membelanjakan dulu uang Anda sehingga selalu kehabisan uang untuk ditabung, kenapa sekarang Anda tidak membalik proses itu? Ketika Anda mendapatkan gaji Anda pada tanggal 25, sisihkan dulu sebagian uangnya untuk ditabung, baru kemudian sisanya dibelanjakan. Bila itu Anda lakukan secara rutin, maka setelah setahun, Anda sudah akan memiliki simpanan dalam jumlah besar. Bila Anda melakukan hal itu, maka Anda tidak ada alasan lagi untuk tidak menabung. Yah, mungkin saja uang yang bisa Anda belanjakan jadi berkurang. Tapi itulah konsekuensinya: Anda perlu memiliki sejumlah dana sebagai cadangan untuk masa depan Anda. Sebagai contoh, penghasilan Anda tadinya adalah Rp 1 juta per bulan. Tadinya, Anda biasa membelanjakan Rp 1 juta tersebut sampai habis. Sekarang, dengan Anda menabung Rp 100 ribu per bulan di muka, maka total pengeluaran Anda cuma tinggal Rp 900 ribu per bulan. Bila Andamerasa jumlah itu tidak cukup, maka Anda harus melakukan satu diantara tiga pilihan dibawah ini: 1. Meningkatkan pendapatan. Dalam contoh di atas, pendapatan Rp 1 juta ditingkatkan menjadi Rp 1,1 juta. Dengan Andatetap menabung Rp 100 ribu, maka pengeluaran Andabukan lagi Rp 900 ribu, tapi kembali menjadi Rp 1 juta. 2. Menekan pengeluaran. Dalam contoh di atas, Anda bersedia untuk menekan pengeluaran Anda yang tadinya Rp 1 juta menjadi Rp 900 ribu saja. 3. Melakukan keduanya, yakni meningkatkan pendapatan sekaligus menekan biaya hidup. Dalam contoh di atas, Anda bisa meningkatkan pendapatan Anda menjadi Rp 1,1 juta, dan menekan pengeluaran Anda menjadi Rp 900 ribu. Dengan demikian, Anda malah memiliki selisih yang lebih besar lagi untuk ditabungkan! Terserah Anda , mana dari ketiga cara tadi yang hendak Anda pilih. Yang paling penting, Anda harus membiasakan diri untuk menabung. Dalam hal ini, apabila Anda mengalami kesulitan untuk menabung karena alasan selalu kehabisan, maka Anda bisa menabung di muka begitu Anda mendapatkan penghasilan. Ingat selalu: Anda perlu dana cadangan untuk masa-masa yang terduga kelak. Sangatlah tidak bijak bila kita egois umtuk memenuhi semua kebutuhan kita saat ini dan secara tidak langsung akan menelantarkan pemenuhan kebutuhan anak-anak kita kelak. KE MANA MENABUNG? Ada banyak pilihan yang bisa Anda gunakan sebagai tempat menabung. Salah satu tempat menabung yang paling populer bagi orang Indonesia adalah tabungan di bank. Kelebihan tabungan adalah bahwa dana dalam tabungan bisa diambil kapan pun Anda inginkan. Kelemahan tabungan adalah bahwa pada saat ini, umumnya tabungan di bank hanya memberikan bunga yang kecil. Selain itu, Anda mungkin juga bisa menabung dengan membeli emas. Bila Anda menabung sebesar, katakan, Rp 200 ribu per bulan, Anda mungkin bisa membeli emas yang jumlahnya sesuai dengan nilai uang yang Anda tabungkan. Pada saat ini, banyak tersedia koin emas yang bisa dibeli dengan jumlah satu gram saja. Sebagai alternatif, Anda bisa juga menabung ke dalam bentuk investasi seperti Reksa Dana. Reksa Dana adalah sebuah bentuk investasi dimana uang yang Anda tabungkan akan dikelola oleh sebuah tim Manajer Investasi untuk diinvestasikan ke dalam berbagai macam produk investasi. Untuk bisa berinvestasi dalam Reksa Dana, bisa dimulai dengan jumlah persyaratan dana minimal sebesar Rp 100 ribu. Jelas, ada beberapa pilihan bila Anda hendak menabung. Kenapa tidak memulainya? Salam Sukses
The Financial Tips
|
BERTINDAK SEKARANG UNTUK MASA DEPAN ANDA, ANAK-ANAK ANDA. KALAU TIDAK SEKARANG KAPAN LAGI
Rabu, 06 Mei 2015
The Financial Tips1
Rabu, 04 Maret 2015
TABUNGAN 2 IN 1 SYARIAH
MANA YANG AKAN ANDA PILIH....
TABUNGAN DI BANK SAJAKAH???
ASURANSI SAJAKAH???
KALAU ADA REKENING 2 IN 1 KENAPA HARUS PILIH SALAH SATU...????
UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT HUBUNGI
Riny Lestari
0857-8200-8430 (sms/wa/line)
Pin BBM 75bf0c18
Selasa, 03 Maret 2015
MANFAAT MENABUNG DI KAMI
USIA 25 TAHUN YANG
DIFIKIRKAN ADALAH :
MENIKAH
MEMBELI KENDARAAN
MEMBELI RUMAH
USIA
35 TAHUN MENABUNG UNTUK KEBUTUHAN :
PENDIDIKAN ANAK
PERGI HAJI
DANA PENSIUN
INVESTASI
PADA
USIA 40 TAHUN :
Sering terjadi resiko sakit kritis ( harus
jaga kesehatan, olah raga, pola hidup sehat)
Musibah kecelakaan (berhati hati di jalan
dan sudah memiliki asuransi)
PADA USIA 50 TAHUN :
Menuai tabungan untuk Anak kuliah
PADA USIA 55 TAHUN :
Naik Haji....
Liburan...
TENTUKAN MASA DEPAN ANDA DARI SEKARANG
Riny Lestari
0857-8200-8430 (sms/wa/line)
Pin BBM 75bf0c18
0857-8200-8430 (sms/wa/line)
Pin BBM 75bf0c18
PERLUKAH ASURANSI JIWA???
PERLUKAH SAYA AKAN ASURANSI JIWA ?
Rekan saya Budi bertanya pada saya "Perlukah Saya Akan Sebuah Asuransi Jiwa?" Pertanyaan tersebut mengingatkan saya akan sebuah iklan telepon gengam di televisi yang mengatakan "hari gini tidak punya henpon" saya plesetkan "hari gini masih tanya perlu enggak asuransi jiwa". Kenapa begitu, karena Budi ini lulusan dari sebuah universitas beken di Inggris dan saat ini kerjanya di sebuah Bank terkenal di Jakarta dalam posisi jabatan manager dan saya pikir pengetahuan dan lingkungan dia pastinya sudah tahu akan hal-hal lain yang berhubungan dengan pencarian solusi untuk menghadapi masa depan nanti baik pada saat tua atau kemungkinan adanya suatu kejadian yang tiba-tiba sehingga dia harus meninggalkan keluarga tercinta menghadap super bos yaitu Tuhan YME. Apakah itu yang namanya Nilai Ekonomi, Rencana Keuangan Masa Depan, Dunia Penuh Ketidakpastian dan hal yang lain. Saya berusaha memahami Budi mengapa ada pertanyaan perlukah saya asuransi jiwa artinya mengapa timbul pertanyaan tersebut, lalu terjadilah obrolan itu antara saya dan Budi yang asyik di Starbuck Plaza Senayan.
Saya tanya sama Budi, berapa umur kamu sekarang. Dia katakan saat ini umurnya 35 tahun lalu. Lalu Bagaimana kondisi Istri dan Anak. Dia bilang Istri kerja di perusahaan swasta juga yaitu perusahaan konsultan di Jakarta sebagai PR tukang haloo2 publik relation dengan umur 30 tahun dan anaknya ada 2 orang yang pertama, seorang perempuan umur 10 tahun saat ini kelas 4 di SD Al Azhar Kebayoran dan yang kedua kelas 1 SD di sekolah yang sama. Lalu saya tanya lagi punya cita-cita apa sih nantinya untuk kalian berdua dan juga bagi anak2. Dia bilang "tentunya ada dong-bahkan segudang cita2nya". Ini dia yang Budi inginkan :
1. Aku mau pensiun umur 55 tahun dan setelah itu mau buka restoran kecil-kecilan di Jakarta.
2. Istriku mau pensiun juga dengan umur lebih cepat karena kalau aku buka usaha dia mau bantuin.
3. Anakku yang pertama perempuan selesai SMA mau aku kirim ke Australia ambil sekolah bisnis dan yang nomer 2 laki2 selesai SMA mau aku kirim ke Inggris kesekolahku dulu.
Lalu pertanyaan sederhana saya ajukan ke Budi, "Itu semua kan perlu dana ?" Dia jawab "Ialah pasti - emangnya dateng dari langit, dan oleh karena itulah aku dan istriku kerja untuk bisa meraih cita-citaku itu, dari sekarang kami sudah mulai menabung sama cari sampingan income deh kan masih ada waktu panjang 20 tahun lagi ya kan ?".
Saya beri pertanyaan lagi yang menggelitik Budi, "Emangnya sekarang udah cukup tabunganmu yang diambil dari gaji dan sampingan income kalian berdua untuk dana sekolah anak-anak ke luar negeri sama buka restoran nantinya ?" Budi jawab "Cukup sih belon tapi kita kan usaha dan doa sama Tuhan semoga dikasih rezeki terus"
Kemudian saya tanya lagi "Budi kalau nabung dari pendapatan berdua setiap bulan bisa berapa persen (%) ?" Sambil tersenyum dia bilang "he he he maksimum 30% kadang2 lebih kecil kadang-kadang enggak kebagian dipakai untuk anak-anak tuh"
Saya ajukan lagi pertanyaan pamungkas "Budi dengan cara begitu emang 20 tahun lagi dijamin punya dana cukup untuk cita-cita sekolah anak dan usaha restoran, lalu gimana jika sebelum 20 tahun Super Boss panggil kamu untuk menghadap, dan yakinkah Istri bisa gantikan posisi kamu sebagai penghasil income dan bisa-bisa cita-cita tinggi tinggal cita-cita aja lho"
Budi kasih respon yamg alamiah "Iya sih emang kalo mikir gitu suka ngeri juga tapi yah kita jalanain aja dengan cari makan halal dan suka nolong orang pasti Tuhan kasih jalan buat kita deh "
Saya tutup dengan suatu ajakan pada Budi "Budi maukah cita-citamu dapat terwujud dengan menyediakan persedian dana yang disiapkan dari sekarang berdasarkan kemampuan distribusi income kamu saat ini dimana dana tersebut akan berfungsi saat nanti kamu pensiun ataupun jika dipanggil super boss suatu saat, bentuknya sama seperti kamu nabung di Bank"
Dengan jujur dan raut muka yang ingin tahu Budi menjawab "Maulah, lalu GIMANA CARANYA ?"
Dari obrolan itu bisa ditarik benang merah bahwasanya setiap orang dan setiap keluarga punya tujuan hidup, punya cita2 yang tentunya ingin terwujud nantinya tetapi ada kendala yaitu manusia itu ada batasan usia untuk produktif dan juga ada batas bahwa setiap orang akan meninggal hanya masalahnya kapan akan meninggal itu yang tidak bisa dipastikan kapannya. Manusia bisa hidup terlalu panjang usianya atau mungkin pendek usianya dan bisa terjadi selama perjalanan hidupnya, ada saatnya sakit, ada kecelakaan yang semuanya itu perlu dana untuk menanggulanginya. Ibarat mobil yang punya ban serep tetapi tidak pernah tahu kapan pastinya ban serep itu digunakan tetapi di bagasi harus selalu ada ban tersebut agar timbul rasa aman secara emosional maupun ekonomi jika terjadi ban kempes di tengah perjalanannya.
Mobil punya nilai ekonomi maka manusiapun punya nilai ekonomi. Orang suka dan bahkan merasa wajib untuk mengasuransikan mobil, rumah dan barang lain yang bernilai ekonomi tetapi terkadang orang lupa mengasuransikan nilai ekonomi yang utamanya yaitu dirinya sendiri. Kijang Inova baru berkisar Rp.200 juta dan pemiliknya bersedia mengeluarkan biaya Rp 6 juta pertahun untuk premi asuransi mobilnya walau dengan resiko jika akhir tahun mobilnya masih mulus maka uang tersebut akan melayang tidak kembali ke kantong pemilik mobil. Mengapa itu terjadi karena mereka ingin rasa aman baik secara moril maupun ekonomi. Lucunya untuk dirinya sendiri hal tersebut tidak terpikirkan atau ada juga yang tidak mau menilai bahwa dirinya sebetulnya punya nilai ekonomi yang nilainya bisa lebih dari Rp.200 juta bahkan mungkin tidak bisa dinilai dengan uang.
Pertanyaan menggelitik "mengapa banyak orang yang sering menunda melakukan persiapan sejak dini" padahal persiapan adalah bagian dari suatu rencana. Dan banyak orang mengatakan bahwa ketidaksuksesan itu kontribusinya datang dari karena tidak punyanya rencana atau tidak merencanakan dengan baik sejak awal.
Memiliki asuransi jiwa adalah bagian dari suatu rencana, polis asuransi jiwa adalah suatu alat untuk menanggulangi masalah, masalah hilangnya nilai ekonomi seseorang dalam artian hilangnya atau berkurangnya pendapatan / gaji seseorang baik karena masa pensiun sehingga pendapatan tetap akan berkurang (stop bekerja regular). Sedangkan biaya hidup tidak menurun pada saat tua apalagi jika terjadi resiko sakit yang berkepanjangan yang perlu biaya besar, bisa juga hilang pendapatan karena meninggal normal atau karena kecelakaan. Bagaimana jika itu terjadi adakah persiapan sudah dimiliki seperti perlunya ban serep di mobil kita yang tidak pasti kapan ban mobil kita akan kempes.
Intinya "Hidup penuh ketidakpastian dan ketidakpastian itu adalah resiko lalu membuat ketidakpastian menjadi pasti bisa ditanggulangi, maka diperlukan rencana bagaimana menaggulanginya dan kita ketahui bersama bahwa persiapan adalah bagian dari suatu rencana. Polis asuransi jiwa adalah persiapan, adalah suatu bagian dari rencana untuk menghadapi resiko, resiko yang bisa diduga dan kita persiapkan cara penanggulangannya akan membantu kita semua mencapai tujuan hidup atau cita-cita hidup kita"
Obrolan saya dengan Budi di Starbuck diakhiri dengan kedamaian dan ketentraman serta kerelaan dan berbuah munculnya Sebuah SOLUSI untuk menanggulangi resiko ketidakpastian di masa depan. Cita-cita hidupnya bersama keluarganya, dan dia sudah setuju menanda tangani satu kontrak perlindungan asurasi jiwa selama 20 tahun.
Selamat untuk Budi dan juga buat Budi yang lain yang sudah punya perlindungan dan selamat datang bagi Budi lain yang belum punya perlindungan.
BUAT KETIDAKPASTIAN MENJADI SUATU KEPASTIAN
Rekan saya Budi bertanya pada saya "Perlukah Saya Akan Sebuah Asuransi Jiwa?" Pertanyaan tersebut mengingatkan saya akan sebuah iklan telepon gengam di televisi yang mengatakan "hari gini tidak punya henpon" saya plesetkan "hari gini masih tanya perlu enggak asuransi jiwa". Kenapa begitu, karena Budi ini lulusan dari sebuah universitas beken di Inggris dan saat ini kerjanya di sebuah Bank terkenal di Jakarta dalam posisi jabatan manager dan saya pikir pengetahuan dan lingkungan dia pastinya sudah tahu akan hal-hal lain yang berhubungan dengan pencarian solusi untuk menghadapi masa depan nanti baik pada saat tua atau kemungkinan adanya suatu kejadian yang tiba-tiba sehingga dia harus meninggalkan keluarga tercinta menghadap super bos yaitu Tuhan YME. Apakah itu yang namanya Nilai Ekonomi, Rencana Keuangan Masa Depan, Dunia Penuh Ketidakpastian dan hal yang lain. Saya berusaha memahami Budi mengapa ada pertanyaan perlukah saya asuransi jiwa artinya mengapa timbul pertanyaan tersebut, lalu terjadilah obrolan itu antara saya dan Budi yang asyik di Starbuck Plaza Senayan.
Saya tanya sama Budi, berapa umur kamu sekarang. Dia katakan saat ini umurnya 35 tahun lalu. Lalu Bagaimana kondisi Istri dan Anak. Dia bilang Istri kerja di perusahaan swasta juga yaitu perusahaan konsultan di Jakarta sebagai PR tukang haloo2 publik relation dengan umur 30 tahun dan anaknya ada 2 orang yang pertama, seorang perempuan umur 10 tahun saat ini kelas 4 di SD Al Azhar Kebayoran dan yang kedua kelas 1 SD di sekolah yang sama. Lalu saya tanya lagi punya cita-cita apa sih nantinya untuk kalian berdua dan juga bagi anak2. Dia bilang "tentunya ada dong-bahkan segudang cita2nya". Ini dia yang Budi inginkan :
1. Aku mau pensiun umur 55 tahun dan setelah itu mau buka restoran kecil-kecilan di Jakarta.
2. Istriku mau pensiun juga dengan umur lebih cepat karena kalau aku buka usaha dia mau bantuin.
3. Anakku yang pertama perempuan selesai SMA mau aku kirim ke Australia ambil sekolah bisnis dan yang nomer 2 laki2 selesai SMA mau aku kirim ke Inggris kesekolahku dulu.
Lalu pertanyaan sederhana saya ajukan ke Budi, "Itu semua kan perlu dana ?" Dia jawab "Ialah pasti - emangnya dateng dari langit, dan oleh karena itulah aku dan istriku kerja untuk bisa meraih cita-citaku itu, dari sekarang kami sudah mulai menabung sama cari sampingan income deh kan masih ada waktu panjang 20 tahun lagi ya kan ?".
Saya beri pertanyaan lagi yang menggelitik Budi, "Emangnya sekarang udah cukup tabunganmu yang diambil dari gaji dan sampingan income kalian berdua untuk dana sekolah anak-anak ke luar negeri sama buka restoran nantinya ?" Budi jawab "Cukup sih belon tapi kita kan usaha dan doa sama Tuhan semoga dikasih rezeki terus"
Kemudian saya tanya lagi "Budi kalau nabung dari pendapatan berdua setiap bulan bisa berapa persen (%) ?" Sambil tersenyum dia bilang "he he he maksimum 30% kadang2 lebih kecil kadang-kadang enggak kebagian dipakai untuk anak-anak tuh"
Saya ajukan lagi pertanyaan pamungkas "Budi dengan cara begitu emang 20 tahun lagi dijamin punya dana cukup untuk cita-cita sekolah anak dan usaha restoran, lalu gimana jika sebelum 20 tahun Super Boss panggil kamu untuk menghadap, dan yakinkah Istri bisa gantikan posisi kamu sebagai penghasil income dan bisa-bisa cita-cita tinggi tinggal cita-cita aja lho"
Budi kasih respon yamg alamiah "Iya sih emang kalo mikir gitu suka ngeri juga tapi yah kita jalanain aja dengan cari makan halal dan suka nolong orang pasti Tuhan kasih jalan buat kita deh "
Saya tutup dengan suatu ajakan pada Budi "Budi maukah cita-citamu dapat terwujud dengan menyediakan persedian dana yang disiapkan dari sekarang berdasarkan kemampuan distribusi income kamu saat ini dimana dana tersebut akan berfungsi saat nanti kamu pensiun ataupun jika dipanggil super boss suatu saat, bentuknya sama seperti kamu nabung di Bank"
Dengan jujur dan raut muka yang ingin tahu Budi menjawab "Maulah, lalu GIMANA CARANYA ?"
Dari obrolan itu bisa ditarik benang merah bahwasanya setiap orang dan setiap keluarga punya tujuan hidup, punya cita2 yang tentunya ingin terwujud nantinya tetapi ada kendala yaitu manusia itu ada batasan usia untuk produktif dan juga ada batas bahwa setiap orang akan meninggal hanya masalahnya kapan akan meninggal itu yang tidak bisa dipastikan kapannya. Manusia bisa hidup terlalu panjang usianya atau mungkin pendek usianya dan bisa terjadi selama perjalanan hidupnya, ada saatnya sakit, ada kecelakaan yang semuanya itu perlu dana untuk menanggulanginya. Ibarat mobil yang punya ban serep tetapi tidak pernah tahu kapan pastinya ban serep itu digunakan tetapi di bagasi harus selalu ada ban tersebut agar timbul rasa aman secara emosional maupun ekonomi jika terjadi ban kempes di tengah perjalanannya.
Mobil punya nilai ekonomi maka manusiapun punya nilai ekonomi. Orang suka dan bahkan merasa wajib untuk mengasuransikan mobil, rumah dan barang lain yang bernilai ekonomi tetapi terkadang orang lupa mengasuransikan nilai ekonomi yang utamanya yaitu dirinya sendiri. Kijang Inova baru berkisar Rp.200 juta dan pemiliknya bersedia mengeluarkan biaya Rp 6 juta pertahun untuk premi asuransi mobilnya walau dengan resiko jika akhir tahun mobilnya masih mulus maka uang tersebut akan melayang tidak kembali ke kantong pemilik mobil. Mengapa itu terjadi karena mereka ingin rasa aman baik secara moril maupun ekonomi. Lucunya untuk dirinya sendiri hal tersebut tidak terpikirkan atau ada juga yang tidak mau menilai bahwa dirinya sebetulnya punya nilai ekonomi yang nilainya bisa lebih dari Rp.200 juta bahkan mungkin tidak bisa dinilai dengan uang.
Pertanyaan menggelitik "mengapa banyak orang yang sering menunda melakukan persiapan sejak dini" padahal persiapan adalah bagian dari suatu rencana. Dan banyak orang mengatakan bahwa ketidaksuksesan itu kontribusinya datang dari karena tidak punyanya rencana atau tidak merencanakan dengan baik sejak awal.
Memiliki asuransi jiwa adalah bagian dari suatu rencana, polis asuransi jiwa adalah suatu alat untuk menanggulangi masalah, masalah hilangnya nilai ekonomi seseorang dalam artian hilangnya atau berkurangnya pendapatan / gaji seseorang baik karena masa pensiun sehingga pendapatan tetap akan berkurang (stop bekerja regular). Sedangkan biaya hidup tidak menurun pada saat tua apalagi jika terjadi resiko sakit yang berkepanjangan yang perlu biaya besar, bisa juga hilang pendapatan karena meninggal normal atau karena kecelakaan. Bagaimana jika itu terjadi adakah persiapan sudah dimiliki seperti perlunya ban serep di mobil kita yang tidak pasti kapan ban mobil kita akan kempes.
Intinya "Hidup penuh ketidakpastian dan ketidakpastian itu adalah resiko lalu membuat ketidakpastian menjadi pasti bisa ditanggulangi, maka diperlukan rencana bagaimana menaggulanginya dan kita ketahui bersama bahwa persiapan adalah bagian dari suatu rencana. Polis asuransi jiwa adalah persiapan, adalah suatu bagian dari rencana untuk menghadapi resiko, resiko yang bisa diduga dan kita persiapkan cara penanggulangannya akan membantu kita semua mencapai tujuan hidup atau cita-cita hidup kita"
Obrolan saya dengan Budi di Starbuck diakhiri dengan kedamaian dan ketentraman serta kerelaan dan berbuah munculnya Sebuah SOLUSI untuk menanggulangi resiko ketidakpastian di masa depan. Cita-cita hidupnya bersama keluarganya, dan dia sudah setuju menanda tangani satu kontrak perlindungan asurasi jiwa selama 20 tahun.
Selamat untuk Budi dan juga buat Budi yang lain yang sudah punya perlindungan dan selamat datang bagi Budi lain yang belum punya perlindungan.
BUAT KETIDAKPASTIAN MENJADI SUATU KEPASTIAN
YOU ARE WHAT YOU THINK!
This is one of my favorite positive thinking quotes:
If you think you are beaten you are;
If you think you dare not, you don't;
If you want to win but think you can't;
It's almost a cinch you won't.
If you think you'll lose you're lost;
For out of the world we find
Success begins with a fellow's will;
It's all in a state of mind.
Life's battles don't always go
To the stronger and faster man,
But sooner or later the man who wins
Is the man who thinks he can
If you think you are beaten you are;
If you think you dare not, you don't;
If you want to win but think you can't;
It's almost a cinch you won't.
If you think you'll lose you're lost;
For out of the world we find
Success begins with a fellow's will;
It's all in a state of mind.
Life's battles don't always go
To the stronger and faster man,
But sooner or later the man who wins
Is the man who thinks he can
Bersyukur atau Berpuas...?
"Ah, begini saja aku udah bersyukur banget..."
Begitu komentar teman saya menanggapi pencapaiannya yang baik secara kuantitatif maupun kualitatif masih jauh dari harapan dia sendiri...
Sekilas, kalimat itu seperti sebuah kalimat syukur, karena dia mendapatkan sesuatu yang biasanya tidak dia dapatkan sebelumnya.
Teman-teman yang luar biasa,
Syukur itu adalah kewajiban kita setiap saat. Ketika bicara pencapaian , tentulah rasa syukur yang kita panjatkan.
Tak perlu jauh-jauh, anda masih bisa membaca tulisan ini pun Anda wajib bersyukur. Anda bisa mendengarkan bunyi tuts keyboard laptop Anda, Anda wajib bersyukur, dan yang paling paripurna adalah kenyataan bahwa Anda masih hidup saat ini adalah hal yang paling kita syukuri...
Jadi...
Syukur adalah gaya hidup kita.
Kita hidup untuk bersyukur.
Caranya adalah dengan menggunakan apa-apa yang sudah Tuhan titipkan pada kita sesuai dengan tempatnya.
Contoh dalam bisnis kita,
Sudahkah kita adil pada Sang Pemberi mata untuk memanfaatkannya sebaik mungkin untuk melihat peluang-peluang yang ada?
Sudahkah kita menggunakan otak kita untuk berpikir apa yang kita bisa kontribusikan untuk orang lain?
Sudahkah kita menggunakan tenaga kita secara optimal untuk melakukan apa yang menjadi tugas kita?
Jika belum, apa pantas kita didengarkan dan dilihat oleh-Nya sebagai hamba yang bersyukur? TIDAK! Sekali-kali tidak. Tak lain kita adalah hamba yang sia-sia hidup di bumi ini.
Jadi,
Silakan kembali cermati kalimat teman saya ini:
"Ah, begini saja aku udah bersyukur banget..."
Apakah lebih cocok dimaknai sebagai kalimat syukur? Atau kalimat puas diri...?
.....by GP
ANAK KECIL AJA TAU
Asuransi itu apa sih ??
kata anak2 kecil :
kata anak2 kecil :
1.untuk menabung agar punya uang
2.biar punya rumah
3.untuk pendidikan
3.untuk pendidikan
4.untuk biaya rumah sakit
5.untuk meringankan beban keuangan
5.untuk meringankan beban keuangan
6. untuk jalan - jalan dll
ayo,apa yg harus di pikirkan lg,,anak kecil
ajah tau!!
ayo,apa yg harus di pikirkan lg,,anak kecil
ajah tau!!
Riny Lestari
0857-8200-8430
Pin BBM 75bf0c18
FutureInc Agency
"BERTINDAK SEKARANG UNTUK MASA DEPAN ANDA DAN KELUARGA ANDA"
0857-8200-8430
Pin BBM 75bf0c18
FutureInc Agency
"BERTINDAK SEKARANG UNTUK MASA DEPAN ANDA DAN KELUARGA ANDA"
PERLINDUNGAN MASA DEPAN
Kepada Pemegang Polis,
Saya Polis Asuransi Anda.
Kita mempunyai tujuan yang sama di dunia ini.
Sekarang Anda sedang melaksanakan tanggung
jawab menyediakan makanan, pakaian dan tempat
tinggal yang layak bagi orang-orang yang Anda kasihi.
Selain itu, Anda menjamin mereka
supaya mendapat pendidikan, kesehatan dan
kesejahteraan. Ketika Anda melakukan semua itu, saya tertidur di dalam sebuah kotak di
dalam lemari Anda, sambil menghimpun
tenaga dan kekuatan dari tahun ke tahun.
Keberadaan saya saat ini mungkin tidak begitu
penting karena perahu kehidupan yang Anda
tumpangi sedang berlayar dengan tenang. Saya ibarat sekoci yang selalu dibawa kemanapun Anda
berlayar.
Dalam situasi tententu, saya akan
menggantikan tempat Anda ataupun kedudukan kapal Anda.
Ketika tiba saatnya Anda beristirahat, saya
akan
bangun dan melanjutkan tugas-tugas yang telah
Anda lakukan sebelumnya. Saya karna menyediakan makanan, pakaian, dan perlindungan bagi orang-orang yang Anda kasihi. Begitu pula
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan bagi
mereka, seperti yang Anda harapkan.
Apabila pekerjaan Anda telah usai, maka
pekerjaan saya baru saja dimulai. Saya akan menjadi
penyambung tangan untuk meneruskan kasih sayang. Meskipun keberadaan saya cukup memberi
beban terhadap Anda, tetapi harus diingat,
saya akan melakukan suatu kelebihan bagi Anda dan keluarga.
Saya akan melakukan lebih dari apa yang Anda lakukan untuk saya.
Lakukan tugas Anda, dan begitu pula dengan
saya....
Salam saya,
Polis Asuransi
(cerita by FT& GP)
Saya Polis Asuransi Anda.
Kita mempunyai tujuan yang sama di dunia ini.
Sekarang Anda sedang melaksanakan tanggung
jawab menyediakan makanan, pakaian dan tempat
tinggal yang layak bagi orang-orang yang Anda kasihi.
Selain itu, Anda menjamin mereka
supaya mendapat pendidikan, kesehatan dan
kesejahteraan. Ketika Anda melakukan semua itu, saya tertidur di dalam sebuah kotak di
dalam lemari Anda, sambil menghimpun
tenaga dan kekuatan dari tahun ke tahun.
Keberadaan saya saat ini mungkin tidak begitu
penting karena perahu kehidupan yang Anda
tumpangi sedang berlayar dengan tenang. Saya ibarat sekoci yang selalu dibawa kemanapun Anda
berlayar.
Dalam situasi tententu, saya akan
menggantikan tempat Anda ataupun kedudukan kapal Anda.
Ketika tiba saatnya Anda beristirahat, saya
akan
bangun dan melanjutkan tugas-tugas yang telah
Anda lakukan sebelumnya. Saya karna menyediakan makanan, pakaian, dan perlindungan bagi orang-orang yang Anda kasihi. Begitu pula
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan bagi
mereka, seperti yang Anda harapkan.
Apabila pekerjaan Anda telah usai, maka
pekerjaan saya baru saja dimulai. Saya akan menjadi
penyambung tangan untuk meneruskan kasih sayang. Meskipun keberadaan saya cukup memberi
beban terhadap Anda, tetapi harus diingat,
saya akan melakukan suatu kelebihan bagi Anda dan keluarga.
Saya akan melakukan lebih dari apa yang Anda lakukan untuk saya.
Lakukan tugas Anda, dan begitu pula dengan
saya....
Salam saya,
Polis Asuransi
(cerita by FT& GP)
Langganan:
Komentar (Atom)




